Navigation



UJI KLINIS

Penjelasan Klinis Tentang Immunocal


Immunocal VS Colostrum

 

UJI KLINIS IMMUNOCAL UNTUK HIV/AIDS

Canadian Trial Network meneliti efek Immunocal pada 14 anak penderita AIDS dan wasting syndrome [penyakit AIDS yang lanjut disertai gejala penurunan berat badan]. Hasilnya menunjukkan adanya kenaikan berat badan bagi anak penderita AIDS sampai 18% dari berat badan semula. Hasil lain, Efek dari Immunocal pada penderita HIV selama 3 bulan menunjukkan peningkatan berat badan mereka antara 2-7 kg.
Penelitian lain melaporkan dua kasus seorang ibu dan anak yang terkena HIV diberikan Immunocal [20g/2 sachet per hari] selama 7 bulan, menunjukkan hasil adanya penurunan terhadap Viral Load dari 140.000 copies m/l menjadi 5.000, DNA Bload Lymphocyte meningkat dari 2.5 k/c mm menjadi 3.33, Neutrophils dari 1.6 menjadi 3.65 dan CD4 dari 1.025 jadi 1.450.
Pada kasus satu keluarga ketika seorang ayah [46 th] pada April 1995 terdiagnosa positif HIV-1 yang tertular dari hubungan heterosex, setelah diberikan Immunocal 25 g perhari, 2 minggu kemudian pasien tsb merasa lebih baik dan dapat bekerja lagi seperti biasa. Begitu juga istrinya [35 th] yang positif HIV-1, telah minum obat AZT selama sebulan tapi malah muntah dan sakit kepala. Setelah minum Immunocal 20 g per hari, kekuatan dan energinya bertambah. Anaknya [2 th juga positif HIV-1, dengan Immunocal 10g per hari, ditemukan perbaikan dan peningkatan energi si anak. Tes darah menunjukkan peningkatan Viral Load, Lymphocyte [sel darah putih] dan CD4 Lymphocyte.
Keandalan Immunocal melawan HIV ini diakui dunia, dengan bukti :

  • Hak patent dari United States Patent mengenai AIDS dalam Method of Treatment of HIV-Seropositive Individuals with Dietary Whey Protein pada tanggal 9 Oktober 1995 dengan nomor 5.456.924.
  • Hak patent dalam Undenatured Whey Protein Concentrate to Improve Active Systemic Humoral Immune Respone dengan nomor 5.230.902 pada tanggal 27 Juli1993.
  • Hak patent dari Australia nomor 8812-93 : Method of Treatment of HIV-seropositive Individuals with Dietary Whey Protein.
  • Diuji klinis lembaga ternama dunia dan diterbitkan majalah ilmiah kedokteran dan biologi internasional, antara lain : Lancet, Anti Cancer Research, British Medical Journal, dan European Jornal of Clinical Pharmacology.

IMMUNOCAL DAN KANKER
Dapatkah disembuhkan ?

KASUS :
            Louisa (54 tahun) menderita sakit di bagian perutnya. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata ia menderita kanker kandung telur. Sambil menanti jadwal operasinya, ia jatuh sakit, batuk yang berkepanjangan dan kelemahan fisik yang amat sangat. Ternyata kankernya telah menyebar ke paru-parunya. Ia memutuskan untuk tidak menjalani operasi untuk mengobati paru-parunya. Setelah diberitahu oleh temannya, ia mengkonsumsi Immunocal dan multivitamin setiap harinya. Ternyata setelah beberapa minggu, ia merasakan perubahan yang sangat besar, 4 bulan kemudian, setelah dirontsen, didapati bahwa tumor paru-parunya tidak membesar. 9 bulan kemudian pemeriksaan radiograf menunjukkan adanya pengecilan ukuran tumor. Sekarang Louisa dapat melanjutkan hidupnya dengan bahagia.
PEMBAHASAN :
            Glutathione membuat sel normal maupun sel kanker menjadi lebih kuat atau lebih rentan terhadap kerusakan. Idealnya, kadar Glutathione tinggi didalam sel normal dan rendah didalam sel kanker, tetapi kenyataannya kadar Glutathione sangat tinggi di dalam sel kanker. Tingginya kadar Glutathione dalam sel kanker atau tumor menyebabkan sel tersebut terus membesar secara tak terkontrol dan kebal terhadap kemoterapi. Oleh sebab itu, kadar Glutathione di dalam sel kanker harus dikurangi.
            Glutathione yang ditambahkan dari luar tidak berguna, karena akan rusak oleh sistem pencernaan kita. Yang harus ditambahkan dari luar adalah Precursor (biang) Glutathione (Immunocal). Precursor Glutathione akan diubah oleh sel menjadi Glutathione. Immunocal mengandung Precursor (biang) Glutathione.
            Bila Precursor Glutathione ditambahkan dari luar melebihi batas, maka sel kanker itu akan menghentikan produksi Glutathione-nya, bahkan Glutathione-nya akan dibuah keluar sel kanker tersebut. Mengapa demikian ? Hal ini disebabkan sel kanker tidak mempunyai control atas dirinya. Proses ini disebut reaksi negative feedback inhibition. Akibatnya, sel-sel kanker tersebut akan kekurangan Glutathione dan rentan atau mudah dimatikan oleh kemoterapi. Sementara itu sel-sel normal akan mengubah Precursor Glutathione menjadi Glutathione, yang akan meningkatkan pertahanannya. Akhirnya penderita dapat disembuhkan dari kanker. Hal ini ditemukan oleh tim A. Russo pada awal tahun 1986 dan telah dipublikasikan dalam Jurnal Cencer Research.
(sumber Immuno News)
PENJELASAN dengan GAMBAR

 

img

 

 

Penjelasan 1

Glutathione (GSH) dan Peranannya pada Diabetes Mellitus

Glutathione (GSH) didapatkan pertama kali pada tahun 1888 oleh ilmuwan De-Kay Pailhade. Mulai tahun 1980, peneliti-peneliti tentang GSH memperhatikan jika sel-sel tubuh kekurangan GSH, kemampuan daya detoksifikasi sel tersebut terhadap radikal bebas akan menurun, sehingga akan mempermudah terjadinya penyakit-penyakit degeneratif, seperti kanker, diabetes mellitus, stroke, dan lain sebagainya.
GSH adalah suatu tripeptide yang terdiri dari tiga (3) Asam Amino, yaitu Gamma Glutamic Acid, Cysteine dan Glycine. GSH secara alami sudah terdapat di dalam tubuh sejak lahir, yaitu di dalam dan di luar sel tubuh dan di seluruh organ tubuh. GSH disintesis di dalam sel dan memerlukan beberapa enzim spesifik dalam proses pembentukannya. Cystine adalah molekul yang dianggap penting dalam pembentukan GSH karena di dalamnya mengandung sulfur yang di dalam tubuh sering tidak mencukupi sehingga proses pembentukan GSH dapat menurun.

Fungsi Glutathione

Adapun fungsi GSH di dalam tubuh kita meliputi :
Meningkatkan kekebalan tubuh (Imunitas)
GSH berperan khusus dalam pembentukan limfosit, dimana diperlukan kadar GSH yg optimal.
Sebagai Antioksidan
Disebut juga “Master Antioksidan”, karena dapat mengikat radikal bebas yang berasal dari polusi udara, rokok, pestisida dan lain-lain. Juga GSH dapat mempertahankan antioksidan lainnya didalam tubuh seperti vitamin C dan E dalam bentuk aktif, sehingga dapat bekerja dengan optimal.
Sebagai Detoksifikasi
GSH dapat menetralisir zat-zat racun yang masuk kedalam tubuh, seperti dari makanan, sisa metabolisme obat, dll.
Glutathione (GSH) Pada Penyakit Diabetes Mellitus (DM)
Pada penderita DM sering didapati kecenderungan mengalami stress oksidatif yang menyebabkan pembentukan radikal bebas di dalam tubuh. Kadar gula darah yang tinggi di dalam tubuh (hiperglikemia) akan meningkatkan jumlah radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh. Glutathione akan mengurangi efek radikal bebas yang bisa menyerang jaringan tubuh yang sehat.
Fungsi Glutathione di dalam tubuh penderita Diabetes Melitus adalah meningkatkan system imun sehingga kekebalan tubuh meningkat serta untuk mencegah terjadinya komplikasi penyakit yang sering menyertai penderita Diabetes Melitus. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat hubungan antara Glutathione dengan Diabetes Mellitus, diantaranya :

  • Penelitian Bravenboer, dkk tahun 1991 pada tikus diabetes menunjukkan peningkatan kadar GSH dalam darah mencegah terjadinya diabetic neuropati.
  • Penelitian yang dilakukan Yoshida, Thornalley, dkk tahun 1994 memperlihatkan rendahnya kadar GSH akan menyebabkan peningkatan kerusakan sel endotel pembuluh darah, aggregasi trombosit dan kejadian komplikasi diabetes.
  • Penelitian Rabbani, dkk tahun 1995 juga menunjukkan pada penderita diabetes mellitus kadar glutathione peroxidase rendah.
  • Jean Carper menyetakan bahwa agar tubuh tetap sehat. Kadar glutathione di dalam tubuh harus dipertahankan agar tetap optimal.

Sumber-sumber peningkatan GSH :
Pemberian GSH langsung kedalam tubuh tidak efektif oleh karena dalam perjalanannya akan dirusak oleh asam lambung. Preparat injeksi GSH juga tidak efektif oleh karena mempunyai waktu paruh yang sangat singkat didalam tubuh (hanya 2,5 menit)
Pembuatan precursor (zat pembangun) GSH juga telah dikembangkan dalam berbagai bentuk. Dalam bentuk obat-obatan telah ada obat NAC (N-Acetyl Cysteine), SAM (S-Adenosyl Methionine), OTC (Ornithine Decarboxylase Procysteine) dan OTZ (Oxothiazolidine Carboxylat). Obat-obatan ini mempunyai kendala dalam penggunaanya, yaitu mempunyai efek samping (bersin, mual, diare, mulut kering, dll), cepat rusak oleh penguraian asam lambung dan bila digunakan dalam jangka panjang akan menimbulkan efek toksik.
Bentuk lain precursor GSH yang telah tersedia adalah dalam bentuk produk alami yang dibuat dari susu sapi segar yaitu Whey Protein Concentrate (Immunocal).
Whey Protein Concentrate (Immunocal)
Immunocal adalah suatu Isolate Protein Serum Susu (Milk Serum Protein Isolate), yang membantu tubuh untuk mempertahankan konsentrasi GSH di dalam tubuh. Immunocal kaya akan kandungan cystine (bukan cysteine), aman, stabil, dan tidak mudah rusak oleh penguraian asam lambung, serta dapat menembus dinding sel. Didalam sel cystine baru akan berubah menjadi cysteine, yang kemudian bergabung dengan glutamate dan glysin menjadi Glutathione.

 

img

 

Immunocal terbuat dari bahan alami, berbeda dengan obat-obatan yang terbuat dari bahan kimia, Immunocal dapat dikonsumsi secara lebih bebas karena tidak mempunyai efek samping dan efek peningkatan dosis. Immunocal juga dapat digunakan pada penderita penyakit Kanker, HIV/AIDS, Bronkitis, Asthma, Alergi, Hipertensi, Stroke, Alzheimer, Penyakit Jantung Koroner, Parkinson, dan Katarak. (dr.Tannov, dr Laurentia)
 Penjelasan 2
IMMUNOCAL dan Diabetes Melitus
Pembahasan
1.   Pengertian.
Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan insulin, sehingga mempengaruhi metabolisme gula di dalam tubuh. Ditandai dengan adanya peningkatan kadar gula di dalam darah. Kadar gula darah puasa > 140 mg/dl dan kadar gula darah 2 jam sesuah makan > 200 mg/dl
2.   Gejala Klinis
Keluhan yang paling sering dialami penderita adalah kesemutan, cepat lelah, luka sulit sembuh, sering lapar, sering buang air kecil, sering haus. Komplikasi pada diabetes pada dasarnya disebabkan oleh 2 hal. Pertama, menurunnya kemampuan untuk melawan infeksi. Kedua, terjadinya kerusakan pada pembuluh darah besar dan kecil. Keadaan inilah yang akan menimbulkan berbagai masalah pada mata, otot, ginjal dan kandung kemih.
3.   Proses Terjadinya Diabetes
Diabetes disebabkan karena kerusakan sel-sel pancreas sehingga produksi horman insulin menurun, jumlah dan kualitasnya. Kerusakan sel pancreas sendiri diakibatkan oleh oksidasi radikal bebas yang jumlahnya melimpah dan dipercepat peningkatannya, sedangkan jumlah antioksidan tidak mencukupi untuk melawannya.
      Kualitas insulin yang menurun berakibat gula darah tidak dapat segera diubah menjadi glikogen di liver dan otot sehingga kadar gula meningkat di dalam darah. Untuk mengatasi hal tersebut, sel-sel pancreas meningkatkan produksi insulinnya namun dengan kualitas yang rendah. Keadaan insulin yang berlebihan ini  disebut HIPERINSULIN.
      Kondisi ini akan menyebabkan kerusakan sel-sel endotel pembuluh darah. Kerusakan endotel pembuluh darah akan mendorong pembentukan gumpalan-gumpalan darah yang menempel pada dinding pembuluh darah. Semakin lama, gumpalan ini akan semakin menebal, sehingga mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan kaku. Kondisi ini dapat mengakibatkan stroke dan kerusakan syaraf.
      Dari proses tersebut, disimpulkan bahwa untuk mengatasi diabetes dibutuhkan insulin dengan kuantitas yang baik dan seimbang. Selama ini penderita hanya mengkonsumsi obat-obatan yang bersifat memacu pancreas untuk memproduksi insulin dari segi kuantitas saja. Dengan cara tersebut gula darah dapat diturunkan tatapi penyempitan pembuluh darah semakin lama semakin parah.
img  LIHAT GAMBAR 1.

Dan ternyata, berdasarkan penelitian para ahli, terdapat hubungan yang erat antara rendahnya kadar Glutathione dengan :

  1. Peningkatan pengendapan gumpalan-gumpalan pencetus arterosklerosis.
  2. Tingginya kerusakan sel penderita diabetes
  3. Timbulnya berbagai komplikasi pada penderita diabetes.
  4. Ketidakteraturan sekresi (pengeluaran) insulin dari penderita diabetes yang tak terkontrol.

Cara kerja Immunocal (Precursor Glutathione) dalam membantu perbaikan diabetes.

  1. Immunocal mengikat zat-zat racun pemacu kerja pancreas dan membuangnya bersama urine.
  2. Immunocal mensuplay antioksidan dan mengefektifkan antioksidan lainnya untuk mencegah radikal bebas yang dapat merusak sel-sel pancreas dan sel-sel organ lainnya.
  3. Immunocal sebagai asam amino essensial berfungsi untuk :
    1. Mempercepat regenerasi sel-sel pancreas sebagai pabrik dari hormone insulin.
    2. Membantu pembentukan hormone insulin, sehingga kualitas dan kuantitas hormone insulin kembali normal, dan tidak menimbulkan kerusakan lebih jauh akibat hiperinsulin.
    3. Mempercepat regenerasi sel-sel organ lainnya yang rusak akibat hiperinsulin.
  4. Immunocal dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk mencegah dan melawan infeksi pada penderita diabetes.
  5. Immunocal dapat meningkatkan kadar Glutathione untuk mengurangi pengendapan platelet, yang dapat mencegah arterosklerosis
  6. Immunocal juga meningkatkan kadar Glutathione yang berakibat mencegah komplikasi :
    • Arterosklerosis (termasuk serangan jantung dan stroke akibat Diabetes)
    • Nephropathy (kerusakan ginjal)
    • Retinopathy (kerusakan retina)
    • Neuripathy (kerusakan system saraf)

(Sumber Immuno News)


IMMUNOCAL DAN HEPATITIS C

  • Hepatitis C adalah penyakit hati, disebabkan oleh virus HCV
  • Penularannya melalui darah atau cairan tubuh
  • Tanda-tanda :
    * Banyak yang tidak merasakan apa-apa, merasa sehat bertahun-tahun.
    * Yang lain merasa cepat capek, sakit di persendian, tidak ada nafsu makan.
    * Sebagian, mata dan kulit berwarna kekuningan.
  • 20 dari 100 orang yang menderita hepatitis akan menderita serosis, sebagian dari mereka akan menjadi kanker hati.
  • Di Amerika :
    * Kematian : 100.000 orang per tahun
    * 4 juta orang menderita hepatitis C
    * 80% menderita kronis, 20% serosis, 5% akan menjadi kanker hati

Fungsi dan peranan Immunocal untuk penderita Hepatitis C dapat meningkatkan kadar Glutathione tubuh. Glutathione paling banyak terdapat pada liver (7,3 MicroMol/gram). Ini karena fungsi hati sebagai tempat detoksifikasi. Immunocal efektif dalam memperbaiki fungsi liver dan menaikkan fungsi immune pada pasien Hepatitis.    


IMMUNOCAL dan KESUBURAN

img

 

Para ahli dari Univ Bristol menunjukkan adanya suatu enzim protein pemicu reaksi yg melindungi sperma dari serangan molekul-molekul reaktif. Enzim itu dikenal dg nama Glutathione Peroxidase 5 (GPX 5). Rendahnya konsentrasi GPX5 bisa mengindikasikan ketidaksuburan


IMMUNOCAL VS PIL / SUNTIK GLUTATHIONE
 

Glutathione dibuat di dalam sel (intraselluler) melalui cystein. Cystein bisa masuk ke dalam sel karena molekulnya kecil. Barulah setelah didalam sel, cystein bergabung dengan glutamate dan  glycine membentuk glutathione.
Pil / suntikan glutathion mempunyai molekul yg besar sehingga tidak masuk kedalam sel. Glutathione ini hanya akan bertahan beberapa jam saja didalam tubuh


IMMUNOCAL VS COLOSTRUM

Colostrum adalah susu pertama saat sapi melahirkan. Colostrum tidak mengandung cystine. Colostrum mengandung immunoglobulin dan sedikit laktoferin. Colostrum sapi baik untuk anak sapi tetapi belum ada penelitian bahwa colostrum sapi baik untuk anak manusia.
Immunocal adalah cystine yang merupakan precursor untuk membentuk glutathion. Glutathion sudah terbukti meningkatkan immune system dalam tubuh manusia

     
Berikut ini adalah penjelasan Uji Klinis versi English :
Clinical trials of Glutathione and Whey protein in HIV-AIDS
Clinical trials of Glutathione and Whey protein in Cancer
Clinical trial of Whey protein in Chronic Hepatitis B and C
Clinical trials of Glutathione and Whey protein in Sports Nutrition
Clinical trial of Whey Protein in Stress-related Cognitive Decline
Clinical trials of Whey Protein in Bone Formation
Clinical trials of Glutathione in Male Infertility
 


Clinical Trials with Glutathione, Whey Protein in HIV-AIDS

Disturbed glutathione metabolism and decreased antioxidant levels in human immunodeficiency virus-infected patients during highly active antiretroviral therapy - potential immunomodulatory effects of antioxidants
Aukrust P, Muller F, Svardal AM, Ueland T, Berge RK, Froland SS. [J Infect Dis. 2003 Jul 15;188(2):232-8. Epub 2003 Jun 09.]
We examined the effect of highly active antiretroviral therapy (HAART) on plasma levels of several antioxidants and intracellular glutathione-redox status in CD4+ T cells, in 20 HIV-infected patients. HAART was accompanied by both an improvement of glutathione-redox status and an increase in levels of antioxidant vitamins, without full normalization. Glutathione supplementation in vitro increases T cell proliferation and suppresses the spontaneous release of tumor necrosis factor-alpha from peripheral blood mononuclear cells, in HIV-infected patients receiving HAART. Our findings suggest that therapeutic intervention aimed at normalization of oxidative disturbances in HIV infection could be of interest, in addition to HAART.

Bioactive, Cysteine-Rich Dietary Supplement Alleviates Gastrointestinal Side-Effects with Associated Weight Gain and Marked Improvement in HAART Adherence in AIDS Patients
A recent open label trial was conducted by Louisa Pacheco, M.D. and her colleagues on the therapeutic use of un-denatured whey protein with HIV/AIDS patients at the Tidewater AIDS Crisis Task Force in Norfolk, Virginia. Patients taking the nutraceutical achieved significant reduction in gastrointestinal side effects (diarrhea, nausea, vomiting, impaired appetite), as well as improved energy levels. Additionally, they were able to adhere to their HAART medications as prescribed, which they had previously been unable to do. In fact, patients using the nutraceutical became 100% adherent to HAART by the end of the 8- week trial. Non-participating patients experienced an average weight loss of 8.5 lbs and remained non-adherent with anti-retroviral therapy. Summary & Conclusions: This immune-enhancing GRAS nutraceutical can be used beneficially in AIDS patients to promote weight gain, improve their health status and tolerance for taking HAART. Thus, including it as part of an AIDS patient’s therapeutic regimen may improve three major conditions - immune deficiency, weight loss, and adherence to HAART.

Oral supplementation with whey proteins increases plasma glutathione levels of HIV-infected patients
Micke P, Beeh KM, Schlaak JF, Buhl R. [Eur J Clin Invest. 2001 Feb;31(2):171-8.] Ddifferent strategies to supplement cysteine supply have been suggested to increase glutathione levels in HIV-infected individuals. The aim of this study was to evaluate the effect of oral supplementation with two different cysteine-rich whey protein formulas on plasma GSH levels and parameters of oxidative stress and immune status in HIV-infected patients. In glutathione-deficient patients with advanced HIV-infection, short-term oral supplementation with whey proteins increases plasma glutathione levels. A long-term clinical trial is clearly warranted to see if this "biochemical efficacy" of whey proteins translates into a more favourable course of the disease.

Effects of long-term supplementation with whey proteins on plasma glutathione levels of HIV-infected patients
Micke P, Beeh KM, Buhl R. [Eur J Nutr 2002 Feb;41(1):12-8] HIV infection is characterized by an enhanced oxidant burden and a systemic deficiency of the tripeptide glutathione (GSH), a major antioxidant. Whey proteins are rich in cysteine as well as in GSH precursor peptides. In order to evaluate the effects of whey supplementation on plasma GSH levels, HIV-infected patients were treated with whey proteins for a period of six months. Supplementation with whey proteins persistently increased plasma glutathione levels in patients with advanced HIV-infection. The treatment was well tolerated. A larger long-term trial is clearly warranted to evaluate whether this positive influence on the glutathione metabolism translates into a more favorable course of the disease.

CTN (Canadian HIV Trials Network) Trial Results - Whey protein supplementation CTN043: Whey Protein Supplementation in HIV-Infected Children: A Pilot Study
This study assessed the value of whey protein, a milk supplement, to prevent severe weight loss in children with AIDS. This was an open label, pilot study (both investigators and volunteers knew which treatment was being given), with only one study group. Participants received daily oral supplementation of whey protein, given as a powder at a starting dose based on 20% of the total daily protein requirement, and increased by increments of five percent every month during four months to reach 35% of the total protein intake at the end of the six-month study. Study Population: Fourteen children were enrolled in four centres. Essential requirements for study entry included wasting syndrome (severe weight loss) within the six months preceding entry into the study. Of 14 participants enrolled, 11 were evaluated. The age of the participants ranged from eight months to 15 years. None of the children experienced any toxicity (side effects) such as diarrhea, vomiting or milk intolerance. All of them gained weight, between 3.2% and 18% from their starting weight. Eight demonstrated improvements in growth parameters, such as in tricep skinfolds, with mid-arm muscle circumference increasing from +1.2% to +25% independently of energy intake. No changes were found in CD4 cell count, but two children experienced a significant increase in CD8 cell count. Whey protein is very well-tolerated in children with AIDS, and it was shown to improve nutrition and growth in a subgroup of patients.
 

Whey Protein for Wasting: CTN079: Multicentre, Double-blind, Randomized Control Study of Whey Protein Concentrate HMS-90 vs Casein in Patients with AIDS and Wasting Syndrome
One study of this all-natural product concluded that this "whey protein concentrate" a derivative of cows milk, is completely safe for people who have been diagnosed as lactose-intolerant. This analysis has lead to the funding of phase 3, clinical trial on adult AIDS patients with wasting syndrome. About the study: Treating AIDS-related wasting syndrome with a whey protein concentrate (WPC) may combat the negative effect of oxidative stress, improve T-cell function and T-cell survival, as well as aid in the control of HIV replication. The study's primary objectives are to determine the effect of WPC on nutrition in patients with AIDS-related wasting syndrome, and to determine the glutathione-changing activity of WPC in people with AIDS-related wasting syndrome.
 
Whey proteins as a food supplement in HIV-seropositive individuals
Bounous G, Baruchel S, Falutz J, Gold P.
Department of Surgery, Montreal General Hospital, Quebec. [Clin Invest Med 1993 Jun;16(3):204-9] On the basis of numerous animal experiments, a pilot study was undertaken to evaluate the effect of undenatured, biologically active, dietary whey protein in 3 HIV-seropositive individuals over a period of 3 months. Whey protein concentrate was prepared so that the most thermosensitive proteins, such as serum albumin which contains 6 glutamylcysteine groups, would be in undenatured form. Whey protein powder dissolved in a drink of the patient's choice was drunk cold in quantities that were increased progressively from 8.4 to 39.2 g per day. Patients took whey proteins without adverse side effects. In the 3 patients whose body weight had been stable in the preceding 2 months, weight gain increased progressively between 2 and 7 kg, with 2 of the patients reaching ideal body weight. Serum proteins, including albumin, remained unchanged and within normal range, indicating that protein replenishment per se was not likely the cause of increased body weight. The glutathione content of the blood mononuclear cells was, as expected, below normal values in all patients at the beginning of the study. Over the 3-month period, glutathione levels increased in all 3 cases. In conclusion, these preliminary data indicate that, in patients who maintain an adequate total caloric intake, the addition of "bioactive" whey protein concentrate as a significant portion of total protein intake increases body weight and shows elevation of glutathione (GSH) content of mononuclear cells toward normal levels. This pilot study will serve as a basis for a much larger clinical trial.
 
Glutathione deficiency is associated with impaired survival in HIV disease
Herzenberg LA, De Rosa SC, Dubs JG, Roederer M, Anderson MT, Ela SW, Deresinski SC, Herzenberg LA. Department of Genetics, Stanford University Medical School, CA 94305-5125, USA. In vitro studies showing that low GSH levels both promote HIV expression and impair T cell function suggested a link between GSH depletion and HIV disease progression. Clinical studies presented here directly demonstrate that low GSH levels predict poor survival in otherwise indistinguishable HIV-infected subjects. Specifically, we show that GSH deficiency in CD4 T cells from such subjects is associated with markedly decreased survival 2-3 years after baseline data collection. This finding, supported by evidence demonstrating that oral administration of the GSH prodrug N-acetylcysteine replenishes GSH in these subjects and suggesting that N-acetylcysteine administration can improve their survival, establishes GSH deficiency as a key determinant of survival in HIV disease. Further, it argues strongly that the unnecessary or excessive use of acetaminophen, alcohol, or other drugs known to deplete GSH should be avoided by HIV-infected individuals.
 
Stanford NAC Study: Glutathione Level Predicts Survival
Author: John S. James [AIDS Treatment News; Issue: 266 03/07/97] A small randomized controlled trial of oral N-acetylcysteine(NAC) was run in San Francisco in 1993 and 1994. A report from this study was published in the PROCEEDINGS OF THE NATIONAL ACADEMY OF SCIENCES, USA; it was also presented at a major immunology conference in San Francisco on February 22, receiving television and newspaper coverage. The basic findings were: (1) For persons with a CD4 count under 200, an abnormally low level of glutathione -- inside CD4 T-cells in the blood --was remarkably predictive of poor survival. (Glutathione is the major defense of those cells against oxidative stress.) Persons with a CD4 count under 200, who also had very low glutathione levels, had an estimated three-year survival a slow as 20 percent -- compared to 60 to 80 percent survival for those with CD4 below 200 but with adequate glutathione levels. (2) Oral NAC helped to replenish low glutathione in blood cells. Followup studies two to three years later showed that persons who were given or chose to take NAC during the trial had considerably better survival than similar subjects who did not take NAC.

N- acetylcysteine replenishes glutathione in HIV infection
De Rosa SC, Zaretsky MD, Dubs JG, and others. [Eur J Clin Invest 2000 Oct;30(10):915-29.] Glutathione (GSH) deficiency is common in HIV-infected individuals and is associated with impaired T cell function and impaired survival. N-acetylcysteine (NAC) is used to replenish GSH that has been depleted by acetaminophen overdose. Studies here test oral administration of NAC for safe and effective GSH replenishment in HIV infection. Whole blood GSH levels in NAC arm subjects significantly increased, bringing GSH levels in NAC-treated subjects to 89% of uninfected controls. NAC treatment for 8 weeks safely replenishes whole blood GSH and T cell GSH in HIV-infected individuals. Thus, NAC offers useful adjunct therapy to increase protection against oxidative stress, improve immune system function and increase detoxification of acetaminophen and other drugs. These findings suggest that NAC therapy could be valuable in other clinical situations in which GSH deficiency or oxidative stress plays a role in disease pathology.
 



Clinical Trials with Glutathione, Whey Protein in Cancer


Multi-Center Cancer Study Accepted for Peer Review Publication September, 2000 (WPC as a Cystine Donor)


The use of a whey protein concentrate in the treatment of patients with metastatic carcinoma: a phase I-II clinical study Kennedy RS, Konok GP, Bounous G, Baruchel S, Lee TD. [Anticancer Res. 1995 Nov-Dec;15(6B):2643-9.] Glutathione (GSH) concentration is high in most tumour cells and this may be an important factor in resistance to chemotherapy.........experiments have shown a differential response of tumour versus normal cells to various cysteine delivery systems.........at concentrations that induce GSH synthesis in normal human cells, a specially prepared whey protein concentrate, caused GSH depletion and inhibition of proliferation in human breast cancer cells. On the basis of this information five patients with metastatic carcinoma of the breast, one of the pancreas and one of the liver were fed 30 grams of this whey protein concentrate daily for six months.......The results indicate that whey protein concentrate might deplete tumour cells of GSH and render them more vulnerable to chemotherapy.

Glutathione reduces the toxicity and improves quality of life of women diagnosed with ovarian cancer treated with cisplatin: results of a double-blind, randomised trial
Smyth JF, Bowman A, Perren T, Wilkinson P, Prescott RJ, Quinn KJ, Tedeschi M. ICRF Medical Oncology Unit, Western General Hospital, Edinburgh, UK. [Ann Oncol 1997 Jun;8(6):569-73]
Early clinical trials have suggested that glutathione (GSH) offers protection from the toxic effects of cisplatin. PATIENTS AND One hundred fifty-one patients with ovarian cancer (stage I-IV) were evaluated in a clinical trial of cisplatin (CDDP) +/- glutathione (GSH). The objective was to determine whether GSH would enhance the feasibility of giving six cycles of CDDP at 100 mg/m2 without dose reduction due to toxicity. The results demonstrate that adding GSH to CDDP allows more cycles of CDDP treatment to be administered because less toxicity is observed and the patient's quality of life is improved.

German study finds whey protein supplement boosts antioxidants
[Treatmentupdate 2001 May;13(1):2]